Ketika roket dan drone Houthi dari Yaman mulai menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah pada akhir 2023, dunia menyadari bahwa konflik Gaza telah melampaui batas-batas geografisnya. Bukan lagi pertempuran antara Israel dan Hamas di sepetak tanah sempit di selatan Mediterania, konflik ini bertransformasi menjadi konfrontasi regional yang melibatkan jaringan aktor non-negara yang didukung Iran—apa yang para analis menyebut sebagai "Axis of Resistance" atau Poros Perlawanan. Babak baru dalam geopolitik Timur Tengah ini membawa implikasi yang jauh melampaui kawasan itu sendiri.
Poros Perlawanan: Arsitektur dan Dinamika
Poros Perlawanan adalah konsep strategis Iran yang merujuk pada jaringan kelompok proksi dan sekutu yang membentang dari Teheran hingga Mediterania. Anggota utamanya mencakup Hezbollah di Lebanon (kekuatan militer terkuat di antara semua aktor non-negara di kawasan dengan arsenal diperkirakan 150.000 rudal), Hamas dan Islamic Jihad di Gaza, milisi Hashd al-Shaabi di Irak, Houthi (Ansarallah) di Yaman, dan berbagai kelompok milisi di Suriah.
Strategi Iran dengan membangun jaringan ini cerdas secara strategis: daripada berkonfrontasi langsung dengan Israel atau Amerika Serikat—yang pasti akan kalah mengingat ketimpangan kekuatan militer yang sangat besar—Iran memilih untuk mengelola tekanan secara asimetris melalui proksi. Setiap kelompok dapat beroperasi dengan tingkat otonomi tertentu, menyerang kepentingan Israel dan Amerika, namun tidak cukup provokatif untuk memicu respons yang menghancurkan Iran sendiri. Ini adalah kalkulus deterrensi yang rumit namun selama ini relatif berhasil.
Front Lebanon: Bahaya Perang Kedua
Sejak 7 Oktober 2023, pertukaran tembakan antara Hezbollah dan militer Israel di perbatasan Lebanon-Israel terus berlangsung dengan intensitas yang fluktuatif namun konsisten meningkat. Sekitar 100.000 warga Israel dari komunitas-komunitas di utara terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Israel melancarkan serangan-serangan udara yang membunuh sejumlah komandan senior Hezbollah, termasuk Fuad Shukr, pejabat tinggi ketiga organisasi tersebut.
Pembunuhan pemimpin tertinggi Hezbollah, Hassan Nasrallah, pada September 2024 dalam serangan udara Israel di Beirut menandai eskalasi dramatis yang mengubah kalkulasi semua pihak. Nasrallah adalah arsitek utama Hezbollah modern dan simbol perlawanan bagi jutaan orang di kawasan. Kematiannya meningkatkan tekanan pada Hezbollah untuk merespons secara lebih kuat, sementara juga menimbulkan pertanyaan tentang kohesi kepemimpinan dan arah strategis kelompok itu ke depan.
Houthi dan Senjata Ekonomi: Ancaman terhadap Laut Merah
Serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah adalah salah satu perkembangan paling mengejutkan dari konflik yang sedang berjalan. Dengan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone maritim, Houthi berhasil memaksa ratusan kapal komersial untuk menghindari jalur Laut Merah dan mengambil rute alternatif yang jauh lebih panjang melingkari Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Dampak ekonominya signifikan: biaya asuransi pengiriman melonjak dramatis, biaya bahan bakar meningkat akibat jarak tempuh yang lebih jauh, dan rantai pasokan global terganggu. Sekitar 12-15 persen perdagangan dunia melewati Laut Merah, termasuk sebagian besar ekspor impor Indonesia. Gangguan terhadap jalur ini bukan sekadar masalah regional—ia adalah masalah ekonomi global yang berdampak langsung pada harga barang di seluruh dunia.
Peran Iran: Di Balik Layar atau di Panggung Depan?
Iran secara konsisten menyatakan bahwa serangan Houthi dan Hezbollah adalah keputusan otonom kelompok-kelompok tersebut, bukan atas perintah Teheran. Klaim ini dilihat dengan skeptis oleh analis Barat, namun secara hukum memberikan ruang bagi Iran untuk mengelola eskalasi sambil mempertahankan deniability yang diperlukan untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika atau Israel.
Namun ambiguitas ini memiliki batas. Pada April 2024, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Iran melancarkan serangan langsung ke wilayah Israel dengan lebih dari 300 drone dan rudal—meskipun sebagian besar berhasil dicegat. Respons Israel yang terkontrol (serangan balik yang minimal) dan permohonan untuk menahan diri dari Amerika, Inggris, dan bahkan negara-negara Arab moderat, mencegah eskalasi lebih jauh. Namun insiden ini menunjukkan bahwa garis merah—yang selama ini memisahkan konflik proksi dari konfrontasi langsung—dapat dilintasi.
Implikasi untuk Kawasan dan Dunia
Skenario yang paling ditakuti—perang regional penuh yang melibatkan Iran, Israel, Amerika Serikat, dan berbagai aktor lainnya—masih belum terjadi, namun probabilitasnya tidak pernah setinggi sekarang dalam beberapa dekade terakhir. Setiap eskalasi yang tidak terkendali, setiap insiden yang salah diinterpretasi, setiap langkah yang melebihi kalkulasi pihak lain, dapat memicu spiral yang sulit dihentikan.
Bagi Indonesia, situasi ini menuntut kewaspadaan strategis dan diversifikasi rute perdagangan. Ketergantungan pada jalur Laut Merah untuk ekspor impor perlu dikaji ulang, sementara diplomasi aktif untuk mendorong gencatan senjata dan solusi politik harus terus ditingkatkan. Dalam babak baru geopolitik Timur Tengah ini, tidak ada yang bisa berdiri di pinggiran sebagai penonton yang tidak terpengaruh.